Pemimpin Yang Otokratis, Tantangan Masyarakat Desa Dalam Berdemokrasi

Pemimpin Yang Ototkratis, Tantangan Masyarakat Desa Dalam Berdemokrasi
Irwan Lawing

Pemimpin Yang Ototkratis, Tantangan Masyarakat Desa Dalam Berdemokrasi

Oleh : Irwan Lawing

Karena kedudukannya diatas, mereka seolah paham segalanya padahal ia hanya sekumpulan daging yang diberikan nyawa dan pengetahuan apa adanya. Walaupun mereka tak paham tetapi memaksakan diri untuk paham dihadapan orang banyak tanpa peduli komentar-komentar dibawah.

Mereka menganggap diri mereka punya kuasa yang absulut bahkan sampai mengeluarkan pernyataan yang bermakna peperangan bagi yang tak sejalan dengannya. Mereka lupa untuk sadar, bahwa kekuasaan mereka hanya diakui oleh orang-orang yang sejalan dan satu kepentingan.

Kritikan dianggap serangan yang harus dibendung dengan menyerang balik kepribadian kritikus, hingga mereka dibenarkan sesamanya saja. Itu sudah cukup buatnya untuk dikatakan hebat, padahal justru sebaliknya.

Miris kita dipertontonkan dengan adegan yang tidak mendidik tersebut. Tentunya mereka harus berpikir banyak dan lebih memutar otak untuk mencari solusi demi solusi dalam menunjang kehidupan yang layak bagi semua orang. Karena mereka digaji untuk menemukan solusi itu, mereka tidak digaji untuk memperjuangkan kepentingannya apalagi sampai digaji untuk mempertahankan kekuasannya.

Dalam adegan lain mereka menganggap bahwa kesalahan pribadi yang sifatnya privat dengan kesalahan kekuasan yang sifatnya publik (merugikan kepentingan umum) itu setara dan sama-sama tidak boleh dicari tahu dan tidak boleh dikritik habis. Hal yang seperti ini tentu tidak baik dicernah oleh lambung demokrasi sebagai lambung pencernah segala bentuk kebebasan.

Demokrasi yang berpangkal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat nyatanya mati dalam keadaan suri. Dan yang mematikannya adalah mereka yang mengaku memiliki kuasa melalui otokratis Mereka akan melegalkan beragam cara untuk mempertahankan otokratis agar demokrasi tidak memperoleh tempat.

Jika demikian adanya maka masyarakat sebagai kumpulan orang-orang yang berdemokrasi punya PR (Pekerja Rumah) yang besar, agar kehidupan yang dicita-citakan dapat tercapai secepatnya. Disamping Penguasa yang tidak lagi mampu mengerjakan Pekerjaan Rumah tersebut selain mengerjakan Pekerjaan Kepentingan Pribadi dan golongannya.

Semuanya perlu untuk sehat termasuk kehidupan sosial, penyakit kekuasaan menempatkan pemerintahaan yang lagi sakit berat ditengah masyarakat. Pasalnya kekuasaan tidak menempatkan pemerintah sebagai pelayan publik seutuhnya tetapi lebih kepada ketotaliterannya melakukan segala cara demi kepuasaannya

Demokrasi yang seharusnya menjadi obat manjur ternyata dipalsukan dengan beragam resep-resep sesat. Demokrasi yang dianut tidak lagi mengedepankan rakyat sebagai power kuat negara melainkan rakyat diarak untuk mengikuti kehendak kekuasaan, dan ini terjadi sampai kewilayah terkecil pemerintahan yakni Desa.

Desa yang menjadi pertautan pertama antara masyarakat dengan pemerintah menjadikan Desa sebagai pucuk dari harapan pembangunan suatu Negara. Demokrasi Desapun seharusnya mampu menghasilkan kelayakan ditengah masyarakat tanpa membeda-bedakan golongan.

Masyarakat Desa yang identik dengan budaya gotong royong merupakan potensi besar terciptanya kehidupan yang rukun dan damai. Hal tersebut dapat terjamin apabila ditopang oleh pemerintah yang cerdas, amanah, jujur dan adil.

Jangan sampai dengan lantang menyampaikan demokrasi tapi anti kritikan dan Rutin melaksanakan musyawarah mufakat yang nyatanya kepentingan pribadi tidak pernah dikesampingkan. Siapa yang perlu berbenah ? Apakah masyarakat yang rindu akan perubahan atau kekuasaan yang anti kritikan ?

#GantiNahkoda

Loading...

Pos terkait

Comment