oleh

Cerita Jelang Pilkades

Cerita Jelang Pilkades
Catatang Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Hari masih pagi, saat sahabat saya menyambangi tempat saya. Sebuah tempat yang mungil, yang oleh kebanyakan sahabat selalu protes karena terkadang sesak saat ngobrol.

Tapi sebuah kesyukuran karena sebagian sahabat bisa mengerti dan tau bahwa tempat yang luas belum tentu membuat hati dan pikiran menjadi adem.

Junaid alias dokter lorong memang sering bertandang dipagi hari. Perawakan yang nyentrik serta suara yang khas melengking serta dibarengi tawa yang cukup memikat itu cukup membuat hangat pertemuan itu.

Tak terasa, seratus dua puluh menit lewat dengan cerita Pilkades. Kopi yang saya tawarkan ditolak dengan nada menghibah. Tak mampu tersiksa lagi, ungkapnya pelan. Cerita Pilkades dengan beragam angle cerita membuat suasana pagi kian asyik.

*
Beragam cerita jelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Bikin ngakak pun juga ada bikin deg degan.

Bikin ngakak karena ada saja calon melakukan prosesi diluar nalar. Pun ada juga calon yang rela melakukan tekanan atau ancaman kepada calon pemilih.

Ada saja calon yang katanya memaksakan kehendak. Memaksakan cara untuk mematikan langkah pemilih agar tetap mendukung dirinya. Dan ketika mendapat perlawanan, ancaman terkadang menyembul keluar.

Cerita lain yang mengemuka pun cukup menggoda. Ada ‘arena judi’ yang bermunculan. Puluhan juta bahkan ratusan juta angka taruhan menjadi cerita setiap saat di warung kopi.

Pasar taruhan makin menggelembung hingga ke pelosok. Entah ini menjadi salah satu pemicu kian seksinya Pemilihan Kepala Desa. Ataukah ini hanya bahagian bumbu yang membuat sedap rasa pertarungan.

*
Cerita jelang Pilkades bak cerita jaman lampau. Memiliki cerita heroik. Bak cerita bacaan saat masih di Sekolah Dasar dulu, cerita Joko Tingkir.

Legenda Joko Tingkir memiliki alur cerita yang memukau. Ia berangkat dari desa tempat tinggalnya menuju kerajaan Demak, untuk melamar sebagai prajurit kerajaan agar dapat bersatu dengan rajanya (latar belakang legenda itu pada masa kerajaan Demak ketika diperintah oleh Sultan Trenggono, 1521-1546 M).

Dalam perjalanannya, berbagai hambatan dilewati, seperti berhadapan dengan 40 buaya di sungai. Joko Tingkir menaklukkan buaya itu hingga membantu dalam perjalanan menuju tujuan.

Perjalanan Pilkades tentu banyak tantangan. Dibutuhkan kedewasaan bertindak. Para CaKaDes memiliki komitmen kuat, siap menang dan siap kalah. Karena sesungguhnya Pilkades, ibarat ungkapan Bugis “pada Lao teppada upe”. Kita sama-sama calon tapi tentu kita memiliki rejeki yang berbeda.

Dalam pemilihan pasti ada pemenang. Pemenangnya cuma satu dan yang lainnya harus menerima kemenangan calon lainnya. Yang belum sempat menang tentu diharapkan menerima dengan baik dan berbesar hati.

Sebuah pesan leluhur bisa menjadi pedoman, “aja’ muangoai onrong, aja’to muacinnai Tante tudangeng,
nasaba detumullei padecengi tana, risappapo muompo, rijello’po muakkengau. (Janganlah menyerakahi kedudukan, jangan pula terlalu mengingini jabatan tinggi, karena engkau tak sanggup memperbaiki Negara. Kalau dicari baru akan muncul. Kalau ditunjuk baru engkau mengaku).

Loading...

Komentar

News Feed