oleh

Satu Paket Embung 120 Juta Kelompok Tani Julu Atia Tamalatea, Diduga Tak Punya Asas Manfaat

CAKRAWALAINFO.COM – JENEPONTO |  Proyek pembangunan 1 unit embung dari Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto melalui bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) yang berlokasi di Kelurahan Bontotangnga Kecamatan Tamalatea, diduga bermasalah, pasalnya embung pertanian tersebut ternyata tidak sesuai dengan peruntukan dan asas manfaatnya.

Berdasarkan Hasil Investigasi oleh Tim Lembaga Pemberantas Korupsi (LPK) Provinsi Sulawesi Selatan bersama dengan rekan media, Rabu (15/12/2021), diketahui bahwa titik lokasi pembangunan embung tidak sesuai dengan verifikasi serta pengajuan proposal dari kelompok tani penerima manfaat tersebut.

Diketahui bahwa kelompok tani (Koptan) Julu Atia yang mendapatkan satu paket program bantuan embung tani yang bersumber dari DAK Fisik Bidang Pertanian Tahun 2021 dengan anggaran Rp 120 Juta Rupiah sesuai nomor kontrak :05/SPK/KONTRAK-DAK/PPK-PSP/V/2021. Melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Kabupaten Jeneponto.

” Menurut Sekjend LPK SULSEL, Syafar, bahwa berdasarkan proposal pengajuan yang dibuat oleh kelompok tani Julu Atia embung tersebut akan di gunakan untuk pengairan bidang perkebunam, akan tetapi jika melihat dari hasil titik lokasi pembangunannya tersebut, saya pesimis embung tersebut tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukan dan asas manfaatnya.

“Saya meyakini jika embung tersebut nantinya tidak dapat difungsikan karena itu hanya tadah hujan, tidak ada sumber air, bagaimana mungkin dapat mengairi lahan pertanian, perkebunan jika model embungnya seperti bak mandi” tegas Kata Sekjend LPK Kepada cakrawala info.com, Rabu (15/12/2021).

” Sementara Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Ramis SP.M.AP, yang dimintai klarafikasinya oleh Sekjend LPK Sulsel, Syafar melalui Via WhastApp Nya mengatakan bahwa ” Maaf embung itu bisa peruntukannya untuk pengembangan Bidang perkebunan, hortikultura, peternakan maupun tanaman pangan, dan itu berdasarkan aturan yang ada sumber air dari embung bersumber dari air mengalir, air tanah dan sumber air lainnya termasuk air hujan atau run up ” ujarnya

” Ditempat yang terpisah ketua Kelompok Tani Julu Atia H.Baha, yang dihubungi oleh sekjend LPK Melalui sambungan WhatsApp Nya, memaparkan bahwa pengajuan proposal pembangunan embung itu untuk bidang perkebunan dengan ukuran 15 x 15 M dan kedalaman 3 meter, anggaran senilai 120 juta rupiah.

Lanjut ketika dipertanyakan kembali, darimana sumber airnya ? H Baha Menjelaskan bahwa dalam pembangunan embung tersebut itu sebagai tadah hujan dan sumber airnya itu diambil dari selokan untuk ditampung kembali ke bak embung tersebut dan selanjutnya bisa mengairi lokasi petani perkebunan setempat ” ujarnya

Sementara tim sebelumnya sudah mengecek ke lokasi pembangunan embung yang disertakan dengan hasil dokumentasi sesuai dengan titik koordinat berdasarkan pengajuaan pembuatan embung yang di peruntukan untuk bidang perkebunan, Namun tim menduga bahwa embung tersebut nantinya tidak dapat berfungsi sesuai asas manfaat yang diharapkan oleh kelompok tani penerima manfaat tersebut.

Namun berbeda dengan hasil pernyataan dari Kabid PSP Ramis, karena dilokasi tersebut sama sekali tidak memiliki sumber air dari tanah maupun dari sumber yang lainnya selain tadah hujan. Sehingga dinilai tim verifikasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto, melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) sudah keliru didalam penempatan posisi lokasi titik koordinat pembuatan embung yang diduga tidak sesuai dengan peruntukan dan sumber air yang dapat dinikmati asas manfaatnya oleh kelompok tani bidang perkebunan yang ada dalam titik lokasi tersebut” jelas kata LPK kepada media ini.

Laporan: iqbal

Loading...

Komentar

News Feed