oleh

Pahlawan, Catatan Pinggir Bahtiar Parenrengi

Pahlawan
Catatan Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Hari pahlawan selalu diperingati setiap tahunnya. Momennya disetiap tanggal 10 Nopember, perayaan itu selalu digelar. Entah meriah atau sederhana.

Hari ini, di tahun 2021, kita memperingatinya masih dalam kondisi sederhana. Karena kita masih merasakan pengaruh Pandemi Covid 19. Ada ketidak stabilan kondisi kesehatan dan ketidak stabilan kondisi ekonomi.

Meriah atau sederhana, peringatan itu tetap terlaksana. Tetap memanfaatkan momen untuk mengenang para pejuang bangsa. Karena menurut petuah, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”.

***
Peringatan Hari Pahlawan bukan semata sebuah acara. Peringatan itu seharusnya menjadi acara sarat makna. Bukan hanya sebagai prosesi tahunan semata.

Untuk itulah, dibutuhkan tarikan sejarah agar generasi yang setiap saat berganti dapat memahami sejarah. Dapat mengerti perjuangan para pahlawan kita.

Seremoni acara tahunan memang dibutuhkan, namun memberi pemahaman sejarah juga tidak boleh dielakkan. Generasi penerus harus diberi tanda, agar tau dan mengenal para pahlawannya.

Untuk itu, kita berharap agar seluruh rangkaian kegiatan Hari Pahlawan harus menjadi energi dan semangat baru. Kesadaran baru juga dibutuhkan, agar kekhilafan kita selama ini bisa disadari. Dengan kesadaran tersebut, kita bisa mewarisi nilai kejuangan dan patriotisme dalam membangun bangsa Indonesia.

***
Pahlawan, dalam berbagai acuan dijelaskan sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Pahlawan nasional diberikan kepada para pejuang yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia, berjuang dalam Negara Indonesia, dan merebut kemerdekaan Republik.

Dan tahun 2021 ini,
Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh di Istana Negara, Jakarta.

Keempat tokoh yang diberi gelar itu adalah Tombolotutu dari Sulawesi Tengah, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, Usmar Ismail dari DKI Jakarta, dan Raden Aria Wangsakara dari Banten.

Namun demikian, kita pun masih mendengan merdu Hymne Guru.
Kutipan lirik lagunya “Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

Tanpa tanda jasa. Begitulah lirik yang selalu menggoda. Mereka adalah pahlawan, walau mereka tak diberi gelar secara sah. Mereka banyak jasa kita semua. Mereka pula telah melahirkan banyak penerima ijazah. Termasuk melahirkan pahlawan kemanusiaan. Selamat Hari Pahlawan.

Loading...

Komentar

News Feed