oleh

Sembako Corona dan Kisah Sya’ban (Aduh!! Kenapa tidak yang baru)

Sembako Corona dan Kisah Sya’ban
(Aduh!! Kenapa tidak yang baru)

Catatan Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Semenjak Corona menyerang negeri ini, seolah hidup bakal tammat. Kehidupan terlihat goyah. Para pemegang tampuk pemerintahan, seolah tak ada hentinya berpikir dan bertindak untuk menangani masalah yang diakibatkan oleh teror virus Covid 19.

Perhatian pemerintah terhadap warga terdampak covid 19 ini nampak terlihat dimana-mana. Alat Pelindung Diri terbagi dimana-mana. Sembako pun terdistribusi dimana-mana.

Yang kebagian pasti merasa bersyukur. Namun yang ndak kebagian muncul rasa dongkol. Tak heran, muncul berbagai cuitan di medsos tentang sembako salah sasaran. Salah peruntukan dan salah data.

***
Jelang Ramadhan, sahabat saya I Made Ary P menghubungi lewat fasilitas whatsApp. Cukup singkat, “bang, apa ada data warga yang dirumahkan perusahaan. Saya ada paket untuk mereka. Tapi tak banyak.”

Saya pun menghubungi seorang sahabat yang tau soal data. Hanya seperempat jam, data yang saya butuhkan tersedia.

Saya memilah sejumlah nama yang dibutuhkan. Sementara yang lainnya untuk mendapatkan paket dari donasi #kitainisahabat atau KIS.

Data memang menjadi sesuatu yang penting. Karena melenceng sedikit, bakal menjadi petaka. Medsos menjadi salah satu ruang pelampiasan protes. Dan itulah salah satu bius sembako, yang bisa menurunkan imunt saat pandemi corona.

Sembako telah menjadi salah satu pendorong menurunnya imunt seseorang. Iya, karena dipicu oleh kondisi psycologis. Emosi dan amarah mulai tak terkontrol sehingga mengganggu ketahanan tubuh.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM, Iris Rengganis, bahwa
“Kurang tidur dan stres bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi.”

Saat daya tubuh melemah, bakteri, virus termasuk corona tipe baru (COVID-19) rentan masuk dalam tubuh. Untuk itulah perlunya menjaga emosi, amarah dan stres agar virus tak merasuk ke dalam tubuh.

Sembako corona atau apapun nama bantuannya, telah menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Telah menghadirkan rasa was-was saat dibagikan. Bisa membuat orang khilaf dan hilang kendali.

Seperti yang terjadi Aceh Selatan, sejumlah warga mengamuk dan merusak sejumlah sarana kantor desa di Desa Silolo, Kecamatan Pasi Raja.

Kejadian tersebut diduga dipicu oleh adanya sejumlah warga yang tidak mendapatkan dana bantuan sosial tunai (BST) yang disalurkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia kepada masyarakat di daerah ini dalam penanganan dampak ekonomi akibat COVID-19.

Sembako corona. Andai kita tersadar, tentu kita tak susah menanganinya. Bantuan diserahkan berdasar data yang ada. Kalau toh ada kekeliruan/ kesalahan seyokyanya dicarikan solusi.

Seperti kabar yang dikirimkan sahabat saya Ajis Alkatiri. Dia mengirimkan nama dan foto, bahwa orang tersebut menolak menerima bantuan dan meminta untuk diserahkan kepada orang yang lebih berhak.

Langkah sederhana tentunya. Tapi telah mengetuk bathin, bahwa andai kita jujur maka bantuan pemerintah tak dapat protes.

Kita pun memiliki potensi lain untuk berbagi terhadap sesama. Kita memiliki basis kuat untuk berbagi. Kita memiliki saudara, kerabat dan teman yang bisa berbagi (seperti yang terlihat di medsos).

Tak ada salahnya kita saling mengingatkan. Tugas kita harus menginsfirasi kepada orang lain untuk berbagi dengan sesama. Seperti kata I Made Ary, bahwa Postingan-postingan orang lain, acapkali membuka cakrawala pikiran kita, bahwa sedekah itu banyak jenisnya, tak sekedar sedekah ala konvensional memberi sekian ribu pada pengemis yang mengetuk pintu.

Andai kita bisa menerima setiap postingan orang lain sebagai _wahana meningkatkan kualitas diri kita_ menjadi hamba Allah yg lebih baik dari hari ke hari, tentu ini akan lebih baik dan bermanfaat.

Tapi… kalau segalanya _kita tuduh riya’, kalau semua tulisan kita sangka pamer, lalu postingan-postingan itu tak ada lagi, lalu dari mana kita bisa tau pengalaman hebat orang lain?

Kalau seluruh goresan kegiatan baik, tak ada lagi yg memposting, lalu bagaimana kita bisa belajar kalau segala hal hebat hanya untuk dipendam?

Urusan niat, biarlah menjadi urusan mereka dengan Allah saja, tak perlu kita mengintervensi urusan hati seorang hamba dengan Tuhannya.

Cukuplah kita mengatur hati kita saja untuk tak gampang menuduh orang lain riya’, cukuplah kita mengatur hati kita saja agar selalu positif & terbuka menerima hal-hal baik yang disampaikan orang lain.

Bagus kalau kita mengingatkan orang lain untuk tulus, tapi sebelumnya, lebih bagus lagi kalau kita juga selalu mengingatkan hati sendiri untuk tak gampang menuduh.

***
Ternyata berbagi itu tidaklah gampang. Tidak gampang mengetuk hati kita maupun orang lain. Mungkin saja kita serba berkecukupan, namun belum tentu hati kita bisa luluh untuk berbagi.

Tak heran jika kita selalu diingatkan para ulama melatih diri. Melatih hati untuk ikhlas. Melatih kesadaran kita untuk refleks berbuat baik. Karena yakinlah, setiap kebaikan, akan kita terima sesuai besaran yang telah diperbuat.

Dimasa pandemi corona ini, kita dilatih menjaga perasaan. Menjaga tidak tersingung satu sama lain. Karena selama ini kita saling berjabat tangan saat bersua, kini tangan itu tak berjabat. Jarak pun dianjurkan agar tak tertular virus corona. Dan masih banyak himbauan lainnya, yang mungkin tak berkenaan di hati.

Namun disisi lainnya, kita bisa mengambil hikmah bahwa kita diberi ruang untuk saling peduli. Saling membantu dengan menyisihkan rejeki kepada sesama yang terdampak covid 19.

Dibulan ini, Ramadhan yang kita lewati dalam suasana ancaman penyebaran virus mematikan tersebut, dilipat gandakan pahalanya saat saling membantu. Kita pun duanjurkan oleh Allah yang Maha Rahman-Rahim ini untuk mengeluarkan Zakat, Infak dan Sedekah.
“Barangsiapa membayar zakat hartanya, maka kejelekannya akan hilang dari dirinya.” (HR. al-Haitsami)

Ibarat sahabat Rasulullah yang sangat menyesal tak memberi yang terbaik saat memberi.

Subuh yang dingin. Membuat Sya’ban sahabat Rasulullah tak mengurungkan niatnya ke Masjid untuk Shalat Subuh. Sya’ban meraih baju yang kumal untuk menutupi tubuhnya. Dua lapis baju cukup bisa menghangatkan.

Diperjalanan, dia dapati seseorang yang sedang terbaring kedinginan. Sya’ban membuka bajunya dan memakaikan orang tersebut dan memapahnya hingga ke mesjid menunaikan Shalat berjamaah.

Sungguh sebuah penyesalan bagi Sya’ban ra. Jelang ajalnya, ia merintih. Sya’ban begitu menyesal karena bukan baju baru yang dia kenakan kepada seseorang yang sedang kedinginan tersebut. Sya’ban tentu melihat amalan jelang menghadap Ilahi Rabbi. Dia berteriak “Aduh!! Kenapa tidak yang baru”. Timbul penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Dan kata orang bijak,
Berbagi bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya hal yang kau beri, namun seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang ingin kau beri.

Loading...

Komentar

News Feed