oleh

MARAH Catatan Pinggir Bahtiar Parenrengi

MARAH
Catatan Pinggir :
Bahtiar Parenrengi

Sebulan lebih tak menuliskan sesuatu dikolom media, Hanya bisa mengisi waktu berdiskusi atau pun cerita-cerita ringan di warung kopi, Mungkin ini efek sehabis sakit.

Apalagi saat sakit dijaman Covid 19, sungguh luar biasa. Selalu dipantau dan tekadang bikin galau. Tak dibilang reaktif, agar tak diisolasi. Dan semenjak virus ini menyerang, hampir setiap penduduk negeri merasakan tekanan bathin. Rasa was-was menyelimuti dan pergaulan dibatasi.

Sakit, memang terkadang membuat kita harus beristirahat. Tak menguras tenaga pun tak menguras pikiran. Beristirahat agar perasaan menjadi enjoy, santai dan fresh.

Sakit terkadang mengharuskan kita untuk curhat. Apalagi saat kita butuh pengobatan yang maksimal, ataupun kita tak terlayani akibat alasan prosedur.

Tidak heran, kita mendapati curhatan di media sosial yang begitu memilukan. Seperti sejumlah protes yang dialamatkan kepada pihak pelayanan rumah sakit atau pun tehadap penyelenggara jaminan kesehatan.

Protes terkadang melahirkan sakit hati. Hingga akhirnya bisa mengakibatkan sebuah tindakan yang tidak terkontrol. Tidak heran ada yang mengumpat. Ada banting kursi. Tinju dikepal dan ada pula main tunjuk-tunjuk.

***
Soal marah, kita tak terlepas dari itu. Entah seseorang memiliki jabatan pun orang yang tak memiliki pekerjaan. Marah adalah sesuatu yang sering nongol dalam kehidupan.

Marah. adalah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukan tidak benar.

Kita, yang beragama Islam, diharuskan untuk terus melawan amarah. Bahkan Rasulullah bersabda: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Sementar dari Muadz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

***
Kemarahan bukan hanya emosi yang “buruk” atau destruktif. Justru sebaliknya, marah terkadang merupakan sumber kekuatan yang esensial.

Sehingga terkadang dalam realitas, Marah dapat memberi keberanian untuk tampil. Berani berbicara dan mengambil sikap, atau menyatakan pendapat bahwa sesuatu itu tidak benar.

Seperti kemarahan Menteri Sosial, Rismaharini atau Risma menjadi trending topic di media sosial Twitter, pada Sabtu, 2 Oktober 2021.

Warga net mengambil
topik “Bu Risma”. Dan adegan video Risma memarahi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Gorontalo sambil mengacungkan penanya.

Video itu menarik perhatian warga net. Dan tentu bukan kali ini saja Risma kedapatan sedang marah. Sejak menjadi wali kota Surabaya itu kerap emosional ketika melihat sesuatu yang ia nilai tidak beres.

Dahlan Iskan punya penilaian tersendiri terhadap Risma. Seperti dalam tulisannya, Orang Surabaya sudah menganggap normalnya Bu Risma ya seperti itu. Orang Surabaya tidak mencelanyi. Tidak pula menganggapnya aneh. Prestasi Risma yang tinggi telah mengalahkan gaya kasarnyi. Dia sampai dua kali menjabat Wali Kota Surabaya.

Bu Risma adalah orang yang punya kemauan -besar dan keras. Dan dia bekerja habis-habisan untuk mewujudkan kemauannya itu.

Dikalangan remaja, setiap saat terlihat di televisi tawuran yang merenggut nyawa. Nyawa melayang akibat kemarahan. Marah akibat tersenggol. Marah akibat ketersinggungan di media sosial. Dan marah dengan penyebab yang sepele.

Untuk itulah dibutuhkan kendali diri. Sehingga
kemarahan bisa menjadi sesuatu yang positif. Sayangnya, sedikit orang yang bisa menggunakan kemarahan secara produktif. Sering kali orang yang marah melakukan hal yang tidak sehat dan yang seharusnya tidak dilakukan.

Loading...

Komentar

News Feed