Kasra Jaru Munara Terbikan Buku Ke 2 Berjudul Trilogi Moronene: Sejarah Lokal di Tengah Arus Besar Sejarah Nasional

CAKRAWALAINFO.COM-BOMBANA— Sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang telah berlalu, tetapi fondasi untuk memahami siapa kita hari ini dan ke mana kita hendak melangkah. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi penulisan buku Trilogi Moronene: Kerajaan, Kolonialisme, dan Republik oleh Kasra J. Munara yang resmi diperkenalkan kepada publik di Kabupaten Bombana. Ini adalah buku kedua yang ditulis oleh Kasra tentang Moronene. Buku pertama dirilis tahun 2021 berjudul Moronene Dalam Lintasan Sejarah dan Jejak Peradaban Austronesia.

Launching buku Trilogi Moronene digelar di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Bombana, Kamis (18/12/2025), bertepatan dengan HUT Ke-22 Kab. Bombana. Acara yang dihadirini oleh tokoh adat, pegiat budaya, akademisi, mahasiswa serta pelajar ini dibuka oleh Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani, S.Pd., M.Si. Kegiatan berlangsung sederhana namun sarat makna—sebuah penanda penting bagi upaya memahami sejarah Moronene secara lebih utuh dan berimbang.

Berbeda dari sekadar buku sejarah konvensional, Trilogi Moronene disusun sebagai narasi panjang tentang transformasi masyarakat Moronene. Buku ini membentangkan tiga era besar: Era Kerajaan, ketika struktur adat, Mokole, Bonto, dan Kongkosa menjadi fondasi sosial-politik; Era Kolonial dan Jepang, yang ditandai oleh masuknya distrik, afdeeling, dan kebijakan kolonial; serta Era Republik, ketika Moronene menghadapi dinamika integrasi, konflik, hingga otonomi daerah.

Menurut penulis, memahami rangkaian perubahan ini penting agar masyarakat Moronene—khususnya generasi muda—tidak melihat sejarah secara terpotong-potong, melainkan sebagai proses panjang yang membentuk identitas kolektif hari ini.

Buku ini juga lahir dari kesadaran akan rapuhnya ingatan kolektif ketika sejarah lokal tidak terdokumentasi dengan baik. Selama ini, sejarah Moronene lebih banyak hidup dalam tradisi lisan seperti Kada, sementara catatan tertulis sangat terbatas. Akibatnya, banyak nilai, struktur, dan pengalaman historis yang perlahan memudar atau terlupakan.

“Sejarah lokal sering kali hilang bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak dituliskan,” ungkap penulis dalam pemaparannya. Karena itu, buku ini memadukan riset arsip, dokumentasi kolonial, dan tradisi lisan untuk membangun narasi yang lebih kontekstual dan berlapis.

Lebih jauh, Trilogi Moronene menempatkan sejarah sebagai alat penguatan identitas. Penulis menekankan bahwa rekonstruksi identitas dan ingatan kolektif sangat penting di tengah tantangan fragmentasi sosial, polarisasi elite, dan tumbuhnya persepsi inferioritas kolektif yang masih membayangi sebagian masyarakat Moronene.

“Identitas itu tidak hilang. Ia sering kali hanya tertutup oleh lapisan sejarah dan pengalaman masa lalu. Tugas kita adalah membukanya kembali,” ujar Kasra.

Dalam perspektif tersebut, buku ini tidak berhenti pada pencatatan masa lalu, tetapi juga mengajak pembaca melakukan refleksi: apa yang hilang, nilai apa yang bisa direstorasi, dan modal strategis apa yang masih dimiliki Moronene untuk membangun masa depan. Nilai-nilai adat, kearifan lokal, kohesi sosial, dan kepemimpinan visioner dipandang sebagai aset penting yang dapat diolah kembali dalam konteks kekinian.

Penulis juga menegaskan bahwa karya ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan sejarah nasional, melainkan melengkapinya. “Moronene memang belum banyak masuk dalam radar sejarah nasional. Namun justru di situlah pentingnya sejarah lokal—agar masyarakat dapat memahami posisinya sendiri dalam narasi yang lebih luas,” jelasnya.

Bagi generasi muda Moronene, buku ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi. Dengan memahami sejarah, mereka diajak melihat diri bukan sebagai korban masa lalu, melainkan sebagai aktor yang memiliki kapasitas untuk menulis babak baru sejarahnya sendiri.

“Bangga sebagai orang Moronene bukan sekadar soal nama atau simbol, tetapi tentang kesadaran akan akar, nilai, dan potensi,” tegas penulis.

Melalui buku Trilogi Moronene, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendalam: masa depan tidak dapat dibangun tanpa pemahaman yang jujur terhadap masa lalu. Sejarah, jika dipahami secara utuh, bukan beban—melainkan kompas untuk melangkah dengan lebih percaya diri ke masa depan.

Laporan : Andi

Loading...

Pos terkait

Comment