oleh

Gempa, Tugas Kemanusiaan dan Mimpi Indah Yang Tertunda

Gempa, Tugas Kemanusiaan dan Mimpi Indah Yang Tertunda

Catatan Perjalan:
Bahtiar Parenrengi

Jumat siang tak begitu terik. Seolah matahari begitu kalem menyapa dunia. Cuaca terasa adem, hingga jumatan usai.

Selepas Ibadah Jumat, para sahabat nampak telah mempersiapkan diri menuju Sulawesi Barat. Terlihat raut mukanya penuh keceriaan.

Ceria karena akan menemui korban gempa didaerah Majene dan Mamuju. Ceria karena misi kemanusiaan bakal menjadi kemuliaan dihadapan Tuhan.

Inilah pertanda Tuhan merestui hajat kita. Hajat warga Bone untuk peduli sesama. Peduli untuk membangkitkan semangat korban dari keterpurukan ekonomi dan mental.

***
Siang selepas Jumatan, rombongan sedang siap-siap menuju Sulbar. Rujab Bupati telah dipenuhi kendaraan penuh muatan bantuan.

Satu-persatu kendaraan Bone Peduli bergerak setelah dilepas Bupati Bone, Andi Fahsar M Padjalangi. Ratusan rombongan pun mengular hingga memasuki kabupaten tetangga.

Sejumlah kendaraan mulai terurai karena sejumlah rombongan berusaha untuk tancap gas hingga ketujuan. Namun demikian, rombongan pengangkut barang tetap kompak berurutan.

Saya memilih menepi disebuah Masjid di Kabupaten Sidrap untuk Shalat Ashar. Kami pun menyempatkan menikmati penganan yang dipersiapkan para sahabat.

Suasana lebih seru saat rombongan Satpol dan Baznas juga ikutan gabung. Apalagi ada kopi ciri khas Surya Indah menjadi pelengkap.

Lanjut menyusuri poros trans Sulawesi membawa aroma wisata yang menarik. Berbagai panorama alam yang menjanjikan kesejukan. Semua itu membuat mata dan pikiran terobati dengan menempuh perjalanan kisaran empat ratus kilometer.

Panorama malam hari ketika memasuki kawasan Sulawesi Barat menyuguhkan kesejukan. Angin malam kian bertiup sepoi mengantar kami memasuki Polewali Mandar. Dan tiba-tiba HP saya berdering. Suara sahabat saya, Zainal yang bertolak lebih awal menyapa dan menanyakan posisi saya.

Ternyata, dia bersama rombongan sedang menikmati sajian khas Polman. Tak butuh waktu lama, saya akhirnya bergabung dengan rombongan Arip Foundation, Relawan BDDB, Forum Merah Putih dan Oppo Bosowa.

Kopi hitam dan Tahu Goreng sudah tersedia. Begitupun menu makan malam yang disediakan oleh para sahabat dan relawan Polman. Lahap, begitulah terlihat para sahabat menikmatinya hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul 22.00 WITA.

Kami pun harus melanjutkan perjalanan. Tak lupa berterima kasih kepada pengelola Hotel Sinar Mas yang telah berbaik hati menjamu kami dan menggunakan fasilitas hotel untuk dipakai istirahat.

Tancap gas dan tetap hati-hati melewati jalanan yang dipenuhi kendaraan Bantuan Untuk Sulbar dari berbagai daerah. Sesekali harus menahan diri karena terkadang ada pengemudi yang ugal-ugalan.

Telpon pun berdering beberapa kali. Saya telat mengangkatnya karena arus lalulintas begitu padat dan jalanan sedikit berkelok. Panggilan masuk dari staf protokol Pemda Bone pun akhirnya saya angkat. Dia menanyakan posisi karena rombongan Bone Peduli sudah berada di Hotel Dafina untuk menyerahkan bantuan korban gempa, yang diterima langsung oleh Pelaksana Tugas Bupati Majene, Lukman.

Andi Fahsar terlihat menampakkan rasa empati kepada korban. Ada kesedihan terlihat dari raut wajahnya. “Kami turut berduka. Duka yang dalam dan kami warga Bone sangat prihatin dengan musibah yang menimpa”.

Suasana macet sempat terjadi karena 108 kendaraan rombongan Bone Peduli parkir disepanjang jalan poros trans Sulawesi tersebut. Sejumlah polisi yang mengawal perjalan dengan sigap mengatur arus lalulintas hingga kemacetan bisa terurai.

Dua gelas kopi (kopi hitam dan kopi susu) begitu nikmat terasa. Ini kopi khas Majene, ungkap seorang sahabat saya LH. Petwol. Padahal sebelumnya, saya telah menikmati pula secangkir kopi di Polman. Takarannya tentu sudah melebihi, sebab kebiasaan saya menikmati kopi hanya dua gelas per hari.

***
Perjalanan kembali dilanjutkan dan terpisah dari rombongan. Ini sengaja dilakukan karena sejumlah korban gempa telah mengontak untuk diberi bantuan. Kendaraan pun berjalan pelan agar bisa menyerahkan bantuan yang dititip para donatur korban gempa.

Badan sudah terasa penat dan mata pun sudah mulai terasa perih. Saya melihat jam, ternyata sudah jam dua lewat. Saya masih bertahan mengendalikan kemudi walau semua penumpang mulai terlelap.

Jelang pukul 04.00 subuh, saya memilih menepi disebuah mesjid di Kelurahan Galung Kecamatan Tapalang Kabupaten Mamuju. Puluhan relawan terlihat lelap di teras mesjid. Mereka terlihat kelelahan demi kemanusiaan.

Saya mencoba memasuki mesjid. Terlihat retakan dimana-mana. Plafon mesjid juga terlihat bolong akibat gempa yang melanda. Saya memilih berbaring didalam mesjid, namun mata tak bisa terpejam dan memilih tahajud menanti Shalat Subuh.

Waktu subuh telah tiba. Satu dua orang warga setempat datang untuk berjamaah. Para relawan pun terjaga dari lelap. Mungkin ada mimpi indah yang tertunda. Mimpin bertemu bidadari Surga. Dan saya pun tak bermimpi malam ini. Mimpi indah yang tertunda, seperti mimpi indah warga saat gempa terjadi.

Usai Ibadah Subuh, tak lupa sarapan bareng dengan para sahabat. Buras, ikan Dempo dan daging kambing terasa nikmat dipagi itu. Sarapan bareng dengan relawan dari kabupaten lain tentu menambah nikmat rasanya ikan Dempo.

Pagi nan cerah itu membuat kami semangat menuju lokasi Lapangan Ahmad Kiran, titik kumpul rombongan Bone Peduli. Lokasinya berada ditengah kota Mamuju, karena berhadapan dengan Rujan Wabup Mamuju.

Laju mobil masih pelan, sebuah teriakan dipinggir jalan agak membuat nyali sedikit tersentak. Macet total diatas, teriaknya. Isteri saya sempat memberi saran untuk tidak meneruskan perjalan hingga ke titik macet.

Saya mencoba menenangkan untuk terus melaju ke titik macet. Opsinya, macet bisa saja sudah bisa terurai. Atau mobil kecil/ selain truk atau bus bisa saja melewati jalur tikus.

Tiga jam terjebak diarea longsoran, akhirnya bisa melanjutkan perjalanan setelah sejumlah anggota TNI-Polri turun tangan mengatur arus lalulintas. Jalan yang licin dan menanjak menjadi cobaan uji nyali yang sulit dilupakan.

Ketua DPRD Bone, Irwandi Burhan yang terjebak macet diarea longsoran tersebut bisa mencapai titik kumpul setelah pindah dari bus tumpangan dari Makassar ke salah satu mobil rombongan saya. Irwandi terbilang mujur, karena awalnya sempat bergabung di mobil yang saya kemudikan yang kembali terhalang macet. Irwandi saya minta untuk bergabung disalah satu mobil yang sudah lolos dari kepungan bus besar yang terjebak diarea longsoran.

Tentu misi kemanusiaan ini menjadi catatan tersendiri. Menjadi sebuah perjuangan untuk membantu sesama di Sulawesi Barat. Dan saya pun akhirnya bergabung dengan rombongan Bone Peduli pukul 10.30 WITA.

Loading...

Komentar

News Feed