oleh

Tunda Koreksi Diri dan Kisah Anjing Kehausan

Tunda Koreksi Diri dan Kisah Anjing Kehausan

Catatan Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Khutbah Jumat disebuah Masjid, cukup membuat manggut-manggut jamaah. Bahasa sederhana dipadukan dengan retorika berbicara, cukup membuat kuping betah mendengarkan.

Tak terasa, 25 menit menjadi singkat, untuk Khutbah Jumat. Waktu cepat berputar dan tak membuat ngantuk sebagian jamaah.

Karena biasanya, ketika khutbah berlangsung, banyak mata jamaah yang terpejam. Ngantuk rupanya. Malah ada yang sempat tertidur.

Khutbah memang terkadang membuat ngantuk. Apalagi ketika penyajiannya monoton dan seolah menghakimi. Dan oleh kawan saya menyebutnya, ibadah Jumat mungkin tak sempurna karena hati menjadi dongkol dan tak ikhlas.

***
Keikhlasan mendapatkan siraman rohani haruslah dibiasakan. Entah siapapun menjadi penyampai.

Ikhlas menerima, tentu memiliki poin yang tak sedikit. Menerima secara ikhlas melahirkan instrumen dalam tubuh menjadi lentur. Imun menjadi normal.

Menerima sesuatu dengan ikhlas akan memberi kebaikan yang tak sedikit. Sehingga kesiapan hati dan pikiran menerima kebaikan menjadi landai.

“Terimalah kebenaran dari siapa saja yang membawanya, walaupun dia adalah orang kafir atau beliau berkata : Orang fasik.” (Riwayat Al-Baihaqi).

***
Dalam buku Jiwa dalam Bimbingan Rasulullah karya Dr Saad Riyadh diceritakan kebaikan seorang yang melakukan perjalanan jauh dan memberikan minum kepada anjing yang kehausan seperti dirinya.

Dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda, “Dahulu ada seorang lelaki yang mengadakan perjalanan jauh. Dalam perjalanannya, dia merasa sangat haus yang amat sangat.

Akhirnya ia menemukan sebuah sumur. Dia lalu turun ke dasar sumur untuk melepas dahaga. Setelah itu, ia naik kembali ke atas. Namun tiba-tiba di hadapannya terlihat seekor anjing yang menjulurkan lidah pertanda kehausan.

Lelaki itu sangat iba. Ia merasakan kegetiran bahwa anjing tersebut pasti sedang kehausan. Sama seperti dirinya sebelumnya, yang sangat kehausan.

Dia lalu kembali turun ke dasar sumur. Setelah mengisi sepatunya dengan air sampai penuh dan menggigitnya dengan mulut, dia kemudian memanjat ke atas. Sesampainya di atas dia lalu memberikan air minum itu kepada anjing. Tindakannya tersebut telah membuat Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Mendengar cerita Rasulullah Saw tersebut para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah Saw, apakah kami memperoleh pahala dengan memelihara (memberi makan dan minum) ternak kami?”

Rasulullah Saw menjawab, “Pada (upaya memberi makan, minum, serta memelihara) setiap makhluk hidup (baik manusia, hewan, maupun tumbuhan) akan memperoleh pahala.” (HR Bukhari)

Berbuat baik, tentu tak boleh memandang bulu. Tak memandang kasta dan status sosial. Kisah memberi minum anjing kehausan pun mendapatkan pahala. Apalagi berbuat baik kepada sesama.

Teruslah mengasah diri. Teruslah membiasakan diri berbuat baik, dan sebaiknya tak menundanya.

Loading...

Komentar

News Feed